Dunia kesusastraan global pada tahun 2025 diwarnai oleh karya-karya yang tidak hanya memikat dari segi cerita, tetapi juga berani mendobrak pakem penulisan konvensional. Deretan pemenang penghargaan sastra utama tahun ini memperlihatkan kecenderungan kuat pada eksplorasi ulang sejarah dan kedalaman psikologis karakter, sebuah tren yang menegaskan bahwa novel modern terus berevolusi dari sekadar hiburan menjadi studi mendalam tentang kondisi manusia.
Salah satu sorotan utama tahun ini tertuju pada National Book Award di Amerika Serikat yang memberikan penghormatan tertinggi kepada Percival Everett lewat karyanya, James. Novel ini dianggap sebagai sebuah petualangan yang memacu adrenalin, memadukan absurditas dengan tragedi dalam takaran yang pas. Everett melakukan penulisan ulang terhadap literatur klasik, sebuah usaha yang seringkali berisiko namun berhasil dieksekusi dengan brilian menjadi sebuah penghormatan yang mengejutkan. Dalam gaya khasnya, Everett meregangkan jalinan ras dan bahasa hingga ke titik absurditas yang refleksif, menciptakan lapisan makna yang kaya layaknya sebuah odyssey—sebuah pencarian akan “rumah” yang diselingi humor komikal.
Dualisme Fiksi Sejarah dan Modernitas
Kemenangan James membuka diskusi menarik mengenai posisi novel sejarah dalam literatur kontemporer. Secara definisi, novel sejarah adalah karya yang memanfaatkan tokoh dan peristiwa masa lampau, dengan latar waktu yang jauh sebelum novel tersebut ditulis. Namun, seperti yang terlihat pada tren 2025, genre ini tidak sekadar menyalin fakta. Novel sejarah lebih tepat disebut sebagai novel “rekon imajinasi”, di mana fakta sejarah diceritakan kembali dengan sudut pandang berbeda yang mungkin tidak tercermin dalam catatan resmi.
Kategori ini umumnya terbagi dua. Pertama, novel yang mengambil latar dan peristiwa bersejarah murni, namun penulis menciptakan tokoh fiktif baru yang relevan dengan zaman tersebut. Kedua, seperti halnya pendekatan Everett, adalah novel yang menggunakan tokoh nyata dalam sejarah kemudian mengadaptasikannya ke dalam latar peristiwa yang ada. Fleksibilitas ini memungkinkan penulis masa kini untuk menafsir ulang masa lalu tanpa kehilangan esensi faktualnya.
Anatomi Narasi yang Memukau
Keberhasilan karya-karya pemenang tahun ini, mulai dari fiksi sejarah hingga kontemporer, tidak lepas dari penguasaan struktur teks yang solid. Sebuah novel yang utuh umumnya dibangun di atas kerangka yang dimulai dari orientasi. Bagian ini krusial untuk mengenalkan situasi, menyajikan latar tempat dan waktu, serta memetakan hubungan antar tokoh. Fondasi ini kemudian bergerak menuju pengungkapan peristiwa, fase di mana benih-benih permasalahan mulai ditebar sebagai pemicu konflik yang akan dihadapi para tokoh.
Dinamika cerita kemudian meningkat pada fase “menuju konflik” atau rising action. Di sini, ketegangan, kegembiraan, dan partisipasi emosional pembaca dipacu seiring kesulitan yang bertubi-tubi menimpa tokoh utama. Puncaknya terjadi pada klimaks atau turning point, bagian terbesar yang menentukan perubahan nasib karakter—apakah mereka mampu menyelesaikan masalah atau justru tergilas olehnya.
Setelah badai konflik berlalu, narasi masuk ke tahap resolusi atau evaluasi. Ini adalah momen penilaian terhadap sikap dan nasib tokoh pasca-konflik, yang sering kali diletakkan di penghujung cerita. Menariknya, struktur klasik mengenal adanya “Koda”—komentar penutup atau kesimpulan dari penulis—namun tren novel modern 2025 cenderung meninggalkan bagian ini. Banyak penulis kini lebih memilih membiarkan pembaca merenungkan sendiri kesimpulan akhirnya, memberikan ruang interpretasi yang lebih luas.
Eksplorasi Karakter dan Terjemahan Lintas Budaya
Penerapan struktur yang disiplin namun eksperimental ini terlihat jelas pada pemenang Booker Prize, Flesh karya David Szalay. Novel ini dipuji karena pendekatannya yang berani dan agak dingin. Szalay digambarkan hampir tidak memberikan “kehidupan batin” pada karakternya; deskripsi adegannya dipangkas habis-habisan dan dialognya minimalis. Kritikus Sam Sacks dari The Wall Street Journal menyebut gaya penulisan yang datar dan kering ini memberikan efek hipnotis. Szalay menyoroti tubuh wanita dan dorongan seksual pria dengan tatapan tajam tanpa menjanjikan kenyamanan bagi pembacanya.
Sementara itu, Rabih Alameddine dengan The True True Story of Raja the Gullible menawarkan narasi yang “elips dan elastis”. Alameddine mempercayai kesabaran pembaca, membiarkan urgensi penceritaannya mengakar secara perlahan. David L. Ulin mendeskripsikan novel ini sebagai sebuah tali titian atau trik sulap, di mana koneksi antar momen kehidupan baru terlihat jelas seiring berjalannya waktu.
Di ranah sastra terjemahan, International Booker Prize memberikan penghargaan kepada Heart Lamp karya Banu Mushtaq yang diterjemahkan dari bahasa Kannada oleh Deepa Bhasthi. Karya ini digambarkan sebagai sesuatu yang memilukan sekaligus fantasmagorik. Tradisi lisan yang kaya terpancar kuat, menghadirkan kisah perseteruan keluarga yang membusuk dan gosip yang menyebar bak radioaktif.
Terakhir, National Book Critics Circle Award memilih My Friends karya Hisham Matar. Berbeda dengan ketegangan tinggi pada pemenang lainnya, novel ini bersifat meditatif. Matar menulis dengan kekhidmatan yang dingin, bergulat dengan “malaikat misterius” dari hati nuraninya. Ron Charles dari The Washington Post mencatat bahwa meski penuh kesedihan, novel ini bukanlah tragedi Shakespeare, melainkan sebuah refleksi mendalam yang ditulis dengan kalimat-kalimat epigrafik yang tidak dibuat-buat.
Tahun 2025 membuktikan bahwa baik melalui rekonstruksi sejarah maupun eksperimen gaya bahasa yang ekstrem, kekuatan sebuah novel tetap terletak pada kemampuannya menyusun kepingan pengalaman manusia menjadi struktur narasi yang utuh dan menggugah.