• Jum. Apr 10th, 2026

Dinamika Rekreasi Air: Dari Insiden Kerumunan Depok hingga Manajemen Kelas Dunia

ByWahyu Rahman

Apr 10, 2026

Libur Lebaran yang dibarengi dengan kebijakan larangan mudik dari pemerintah rupanya memicu anomali rutinitas masyarakat. Warga yang tidak bisa pulang kampung akhirnya melampiaskan hasrat berlibur mereka ke destinasi wisata lokal terdekat. Salah satu imbasnya terasa langsung di Kolam Renang Putri Duyung yang berlokasi di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Ratusan pengunjung membanjiri area wisata air tersebut. Sayangnya, membeludaknya antusiasme ini berujung pada penutupan sementara fasilitas kolam renang lantaran angka kunjungannya jauh melampaui batas aman yang diizinkan.

Tindakan Tegas dan Pengawasan Ketat

Kapolsek Sawangan, AKP Rio Mikael Tobing, turun tangan langsung membenarkan langkah penutupan ini. Keputusan tegas tersebut diambil semata-mata demi menekan risiko penularan Covid-19 yang saat itu masih mengancam. Awalnya pihak pengelola memang sempat mencoba patuh pada regulasi Pemerintah Kota Depok dengan membatasi kuota kunjungan. Aturannya jelas, hanya 30 persen dari total kapasitas yang boleh masuk. Pada hari Minggu (16/5/2021), Rio menegaskan bahwa operasional terpaksa dihentikan sementara akibat lonjakan pengunjung yang tidak terkendali.

Sehari sebelum penutupan, pihak Polsek sebenarnya sudah mengendus pergerakan drastis ini. Berbagai imbauan sudah dilayangkan kepada pengelola maupun pengunjung agar tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Namun apa daya, tingginya minat warga membuat situasi di lapangan makin sulit dikendalikan. Polisi akhirnya menyebar anggotanya ke berbagai titik area kolam renang, terutama di pintu akses untuk mengatur keluar masuknya pengunjung. Penutupan pun menjadi satu-satunya jalan keluar untuk mencegah kerumunan fatal.

Evolusi Operasional Taman Air

Mengelola arus pengunjung di fasilitas rekreasi air jelas bukan perkara sepele. Kasus di Depok menjadi gambaran nyata betapa krusialnya manajemen operasional yang matang dalam menangani massa. Di belahan dunia lain, pengelolaan taman wisata air kini sudah berevolusi menjadi sebuah sistem terpadu yang butuh keahlian tingkat tinggi. Di sinilah peran seorang Direktur Operasional Selancar atau biasa disebut Surf Ops mulai memegang kendali.

Posisi ini belakangan menjadi salah satu pekerjaan paling prestisius di berbagai taman selancar, meski di saat yang sama tingkat stresnya luar biasa tinggi. Profesi ini menuntut perpaduan karakter yang sangat tidak biasa. Mereka harus punya jiwa santai layaknya peselancar tulen, cermat menghitung seperti akuntan, dan pandai membaca situasi layaknya seorang cenayang. Semuanya disatukan oleh kecintaan pada dunia selancar dan ambisi untuk menjalankan operasional pada tingkat efisiensi maksimal.

Menjaga Kualitas di Tengah Volume Masif

Aiden Khan adalah wajah dari profesi langka ini. Ia menjabat sebagai Direktur Operasi Selancar di Atlantic Park Surf, tempat di mana ia mengawasi langsung para penjaga pantai—yang lebih akrab disebut tuan rumah terumbu karang—serta memimpin pemrograman ombak. Bersama rekannya, Jason, Aiden meracik “menu ombak” dan mengatur jadwal sesi harian demi mengoptimalkan sirkulasi pengunjung dan pendapatan. Latar belakang Aiden memang sangat menunjang. Sebelum berlabuh di Virginia Beach, ia sempat mengelola Surfrider Hotel, sebuah penginapan butik di Malibu, dan menghabiskan lebih dari lima tahun bekerja di Surf Ranch.

Pengalaman karirnya banyak dibentuk oleh Blake Hess, mantan Manajer Umum Surf Ranch yang kini menjadi Chief Operating Officer Beach Street. Bimbingan Blake membantu Aiden mengasah insting kepemimpinan yang kini sangat ia butuhkan di Atlantic Park. Tantangan terbesar Aiden di tempat baru ini adalah tingginya volume perputaran manusia. Jika di tempat lamanya ia hanya menangani sekitar 25 hingga 30 tamu dalam durasi 24 jam penuh, di Atlantic Park ia harus memfasilitasi jumlah pengunjung yang sama setiap jamnya.

Kapasitas masif seperti ini sering kali membuat taman bermain air kehilangan sentuhan personal. Aiden menolak terjebak dalam pola tersebut. Ia membawa prinsip bahwa setiap tamu itu penting, meski mereka hanya menghabiskan waktu satu jam di dalam air. Untuk memastikan kelancaran ritme ini tanpa mengorbankan kualitas, Aiden dan tim dari Wavegarden bahkan sempat menghabiskan waktu berminggu-minggu langsung di dalam air. Mereka terus menguji berbagai pengaturan mesin untuk menciptakan program ombak yang mengalir secara progresif, memastikan setiap pengunjung mendapatkan pengalaman optimal tanpa harus berdesakan.